Kapan menikah ?
“Acara-acara keluarga kerap menjadi arena untuk mempertahankan konstruksi dominan dan secara tidak sadar, menyingkirkan atau memarjinalkan orang-orang yang tidak hidup mengikuti konstruksi dominan tersebut”- Rouli Ester -
Aku percaya jika tidak hanya Rouli yang mendapatkan pertanyaan “Kapan menikah?”ketika berada dalam sebuah acara keluarga. Sebagian besar perempuan akan mendapatkan pertanyaan serupa jika usia perempuan tersebut telah mencapai sekitar angka 25-30 tahun.
Dalam karyanya, Rouli bercerita tentang sebuah pertanyaan yang ditujukan kepadanya saat usianya memasuki angka 20-an akhir. Puncak pertanyaan tersebut terjadi disaat adiknya melangsungkan pernikahan terlebih dahulu. Pada hari pernikahan sang adik, Rouli tak lepas menjadi perhatian beberapa tamu undangan. Mereka pun datang menghampirinya seraya bertanya kapan dia akan menyusul sang adik. Dari sekian banyak orang yang mengajukan pertanyaan serupa, Rouli juga mendapatkan simpati para tamu karena Rouli didahului oleh sang adik. Pun sebuah apresiasi karena telah bersedia menjadi kakak yang “baik”, yang bersedia didahului oleh sang adik.
Hebatnya, Rouli tidak terganggu sama sekali dengan pertanyaan “kapan menikah?”. Dia hanya tersenyum menerima setiap perkataan tersebut sembari membalas dengan ucapan “terimakasih dan mohon doanya”. Rouli yakin, jika ucapan semua orang yang ditujukan kepadanya tidak bermaksud buruk dan itu merupakan sebuah bentuk perhatian kepadanya. Perihal didahului sang adik, kondisi psikologis Rouli pun juga tidak sedikitpun terpengaruh.
Alih-alih mengambil pusing dengan urusan kapan menikah. Rouli justru mulai memikirkan ujaran-ujaran pertanyaan itu dalam kerangka yang lebih luas. Mengapa ketika perempuan belum menikah dalam usia tertentu dianggap sebagai masalah besar ? Mengapa orang-orang yang datang dalam pesta pernikahan adik Rouli merasa kasihan terhadapnya, lantaran adiknya lebih dahulu menikah ?. Hal ini tentu berbeda, ketika ditujukan kepada seseorang yang berhati kecil. Meskipun terkadang seseorang bertanya tanpa niat buruk, pertanyaan tersebut baginya seakan masalah besar yang akan terus menerus menguras energi. Jadi sudah sepatutnya kita untuk lebih bijaksana dalam mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat pribadi. Karena kita tak pernah tahu kondisi hati orang lain saat kita ajukan pertanyaan tersebut.
Dalam siklus hidup seorang perempuan, pernikahan kerap dikonstruksikan sebagai pencapaian. Pun halnya mempunyai anak. Menikah dan punya anak menjadi suatu prestasi yang harus dikejar oleh perempuan guna menjadi perempuan seutuhnya. Jika pada usia tertentu ia belum menikah, ia akan mulai dipinggirkan oleh masyarakat. Seperti halnya dengan tidak memiliki anak, ia akan dianggap bermasalah. Wallahu a’lam.
Pernikahan juga kerap dianggap sebagai puncak kebahagiaan perempuan. Meskipun, perihal kebahagiaan tentu masing-masing orang mempunya definisi yang berbeda. Jika ada perempuan yang dengan matang berpikir bahwa ia tidak merasa bahagia jika menikah, kenapa musti dipaksakan ? atau, jika seorang perempuan belum menemukan orang yang tepat, akankah iya harus berkompromi untuk menikah dengan orang yang tidak cocok dengannya hanya demi memenuhi ekspektasi masyarakat, khususnya keluarga ? .
Pernikahan bukan sesuatu yang harus dikejar demi mendapatkan kebahagiaan. Jika sampai saat ini kita belum menikah, ini juga bukan sebuah standar untuk mengukur apakah kita berhasil atau tidak dalam kehidupan. Waktu masing-masing orang tidaklah sama dan kita tidak bisa memaksakan sebuah pernikahan harus dan wajib terjadi pada usia tertentu. Pun perihal memiliki momongan, memiliki pekerjaan yang kita harapkan atau bahkan kapan kita akan menghadap Yang Maha Esa. Everyone have their own times which can’t be forced dan tentu semua kembali lagi kepada takdir Allah SWT.
Referensi :
Rouli EP. 2020. Apakah Aku Ibu yang Baik ?. Jawa Barat : Infermia Publishing.
#akudanbuku
#reviewbuku
#rumbelliterasiKIP
#tulisinaja
#literasiindonesia

Comments
Post a Comment