Sudah Isi, belum ?

 


Ada atau tidak adanya anak, pernah melahirkan atau tidak, itu bukan standar untuk menentukan apakah kita ini berharga atau tidak, apakah kita adalah perempuan seutuhnya atau tidak”

 

Masih berhubungan dengan buku karya Rouli Ester, kita tak akan asing dengan sebuah pertanyaan yang kerap membuat resah pasangan suami istri yang belum mempunyai keturunan. Pertanyaan demikian sangat sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Beberapa orang merasa jika pertanyaan tersebut merupakan sesuatu yang wajar ditanyakan untuk pasutri yang memang sudah lama menikah namun belum dikaruniai keturunan. Sebagian yang lain merasa pertanyaan tersebut layaknya sambaran petir disiang bolong. Belum lagi komentar seseorang yang menganggap enteng bahkan melayangkan ucapan sedikit menyakitkan ketika kita tak sependapat dengan pertanyaan serupa. Kita tak pernah mengetahui apa isi hati orang lain, pun apa yang sedang mereka alami.

Rouli menyatakan dalam bukunya, hal yang menjadi persoalan bukan pada orang-orang yang dengan enteng mengeluarkan pertanyaan tersebut. Namun, persoalan utama terletak pada sebab pertanyaan tersebut dapat dengan mudah diucapkan dan dianggap sebagai bumbu percakapan sehari-hari. Hal itulah yang harus dipertanyakan. Kita mengetahui jika pertanyaan seperti ini muncul sebagai hal yang telah terkonstruksi pada budaya masyarakat kita. Pernikahan selalu dikaitkan dengan memiliki keturunan dan perempuan selalu dianggap pasti ingin punya anak. Meski kenyataannya tidak selalu demikian.

Tidak dapat dipungkiri, kita hidup berdampingan sebagai makhluk sosial. Apa yang kita lakukan, selalu menjadi sorotan bagi orang lain, satu atau dua, akan selalu ada orang yang berkomentar. Terkadang orang lain pun dengan mudah mengatakan jika kita terlalu sensitive atau baper (red : bawa perasaan). Bagiku, sekali dua kali mendapatkan pertanyaan serupa bukanlah suatu masalah. Namun, jika setiap orang menanyakan hal tersebut, tak munafik jika aku akan terus memikirkannya. Merasa jengah ? sudah pasti. Salah satu cara untuk tetap stay calm hanya dengan menjawab “mohon doanya”.  Dari sini aku belajar, alih-alih menanyakan “kapan isi ?; kok belum isi?, sebuah pertanyaan atau perlakuan lain seperti membawakan oleh-oleh dan kemudian mengajaknya makan dengan ucapan “kita isi perut dulu yuk”, merupakan sikap yang paling tepat. Selain senyuman tulus, perasaan lebih tenang dan damai inshaallah akan didapatkan. Untuk sesama peremuan, kukirimkan my virtual hug untuk kalian yang sedang menantikan buah hati.

 

Referensi :

Rouli EP. 2020. Apakah Aku Ibu yang Baik ?. Jawa Barat : Infermia Publishing.

 

#SeninAsyik

#MelukisAksara

#TulisinAja

#RumbelLiterasi

#SarapanKata

#SahabatPena

Comments

Popular posts from this blog

Terbaik Versi Allah SWT

Melawan Rasa Malu

Impostor Syndrom