Haruskah Aku Berjanji ?


Bagaimana perasaan kalian jika seseorang yang telah berjanji akan sesuatu kepada kalian, kemudian mengingkarinya? Tentunya, perasaan marah dan kecewa menjadi sikap yang secara otomatis muncul saat itu.

Dewasa ini, mengikrarkan sebuah janji terasa begitu mudah dilakukan. Janji dianggap suatu hal yang sederhana. Jikalau tidak mampu menepati, ungkapan permintaan maaf menjadi senjata untuk menyelesaikan permasalahan yang ditimbulkan akibat mengingkari janji. Tidak ada yang salah dengan sebuah permintaan maaf, hanya saja kebiasaan mengingkari janji bukanlah suatu hal yang baik, karena hal tersebut dapat mengakibatkan hilangnya sebuah kepercayaan. Meskipun, beberapa orang dengan sangat mudah menerima sebuah permintaan maaf.
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ayat 34 yang artinya “Sesungguhnya, janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya”. Selain itu, Nabi Muhammad SAW telah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim “Barang siapa yang tidak menepati janji seseorang Muslim maka dia mendapatkan laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan.”Baik Al-Quran maupun Hadits telah menjelaskan secara pasti bagaimana Allah SWT melarang kita mengingkari janji.

Janji ibarat sebuah hutang, hutang yang wajib hukumnya kita bayar atau lunasi. Seseorang yang sering mengucapkan sebuah janji kemudian dengan mudah dia mengingkari, maka dia termasuk golongan orang yang munafik. Hal tersebut sangat jelas disebutkan didalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Jika ia berkata ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari dan apabila ia diberi amanah (kepercayaan) ia akan mengkhianatinya.”

Sebelum mengucapkan sebuah janji, kita harus memastikan jika kita mampu untuk menepatinya, hal ini di luar kejadian tak terduga yang dikehendaki Allah SWT. Sehingga membuat kita tidak dapat menepati janji yang telah kita buat. Contoh kecil dari mengingkari janji yang terkadang tidak disadari adalah janji orang tua kepada seorang anak kecil. Seperti janji membelikan sebuah mainan atau permen, hanya untuk meredakan tangis mereka. Hal tersebut sudah merupakan sebuah janji yang harus ditepati. Untuk itu, sudah seharusnya kita berhati-hati dalam mengikrarkan sebuah janji, sekalipun kepada anak kecil.

Comments

Popular posts from this blog

Terbaik Versi Allah SWT

Melawan Rasa Malu

Impostor Syndrom